Minggu, 11 Desember 2011

Tentang Pertamax Dan Premium

artikel 1:

Harga Pertamax dan Pertamax Plus melangit. Bagaimana pengguna motor Pertamax, khususnya Satria F150? Perlu nggak ya… ‘turun derajat’ nenggak Premium? Apa sih kelebihan dan kekurangannya?
Turun pangkat pakai Premium, tenaga pasti berkurang. Wajar, angka oktan keduanya beda. Pertamax dipatok 92-95. Sedang Premium di angka 82. Angka oktan menyatakan kandungan molekul iso oktan di bensin. Molekul ini yang menahan terjadinya ngelitik atau detonasi. Sehingga makin tinggi oktan, kuat terhadap kompresi tinggi. “Kompresi berbanding lurus dengan angka oktan. Kompresi wajib diimbangi oktan tinggi,” jelas Colin Latung, konsultan perminyakan dari URS Indonesia. Kesesuaian angka oktan dengan kompresi akan memperkecil kemungkinan terjadi gejala nggelitik. “Kalau tetap memaksakan motor dengan kompresi tinggi menggunakan oktan rendah, piston akan jebol. Biaya yang dikeluarkan akan jauh lebih besar.”
Artinya, mengubah penggunaan Premium tergantung kompresi motor. Dalam kondisi estede, lihat saja spesifikasi teknis kendaraan yang dibikin pabrikan. Motor 4-tak lokal umumnya punya kompresi kisaran antara 9:1 sampai 9,3:1. Bahkan, motor 4-tak impor seperti Suzuki Satria F150 berkompresi 10,2:1. “Kalau ingin tidak mengalami detonasi, turunkan kompresi. Ganjal head silinder dengan paking yang lebih tebal,”

Konsekuensinya, tenaga motor akan melorot. Menurut Colin, tidak masalah. “Ini untuk penggunaan harian bukan balap,” tambahnya.
Tapi, bagaimana dengan mengoplos aditif octane booster. “Penambahan itu tidak signifikan. Sebab, kandungan kimia octane seperti Metil Cyclo Pentan Dienyl Manganis Tricarbonil (MMT) tidak akan besar mendongkrak angka oktan,” ungkap Colin.
Bagaimana dengan motor 2-tak. Umumnya, perbandingan kompresi lebih rendah. Jadi, pindah pemakaian Pertamax ke Premium nggak masalah. Kebutuhan motor 2-tak terhadap kriteria bahan bakar dianjurkan menggunakan Premium. Misal, kompresi Kawasaki Ninja-RR 7,2:1. Data Premium beroktan 82-92. “Cukup menyuplai kebutuhan motor berkompresi 7:1-9:1,” jelas Freddyanto Basuki, assistant manager service division, PT Kawasaki Motor Indonesia.
Memang, penggunaan Premium perlu diwaspadai. Soalnya, bahan bakar itu belum
bebas timbel (luar Jabotabek).
OKTAN INDONESIA LEBIH RENDAH

Angka oktan bensin yang beredar di Indonesia menurut Colin Latung lebih rendah dibanding dengan sejenis di negara lain. Sebab, kita menganut Research Octane Number (RON). Sedangkan di negara lain, misal, Malaysia menganut Pump Octane Number (POM). “Angka POM didapat dari penjumlahan RON dan MON (Motor Octane Number). Hasilnya dibagi dua,” jelas Colin.
Dengan demikian, kalau angka RON Pertamax dikonversikan ke POM sudah pasti angkanya turun. “Jadi kualitas bahan bakar kita memang tidak baik,” tambah Colin.
Kurtubi, pengamat bahan bakar yang juga bekerja di PT Pertamina ngasih solusi. Kompetisi penyuplai bahan bakar minyak harus dibuka. “Pemerintah harus membuka keran pemain baru. Di sisi lain, rakyat harus tetap dilindungi. Harga tidak diserahkan ke pasar, tapi ditentukan oleh pemerintah,” jelas Staf Pengajar Pascasarjana Fakultas Ekonomi Universitas Indonsia ini.
TES PREMIUM DAN PERTAMAX

Rasio kompresi motor, sangat menentukan dalam pemilihan bahan bakar. Em-Plus coba ngetes motor kompresi tinggi diberi perlakuan beda. Seperti Suzuki Satria F150 kompresinya 10,2 : 1. Pertama tes diisi Pertamax. Kemudian digeber keliling Jakarta pas jam macet. Dari pukul 15:50-16:30.
Kondisi berboncengan. Pengendara 70 kg dan boncenger 60 kg. Hasilnya mencapai jarak tempuh 64 km. Menghabiskan Pertamax 2.100 cc, atau 2 liter lebih 100 cc. Berarti bisa dicari pemakaian BBM-nya. Sekitar 30,5 km/liter.
Perlakuan kedua diisi Premium. Tentu setelah tangki dikuras. Dites sendirian alias tanpa boncenger. Berat pengendara 65 kg. Dites di Jakarta sekitar jam 10 pagi
Kesimpulanya, Pertamax lebih irit meski dengan beban berat. Sebab tidak ada detonasi dan menghasilkan tenaga gede. Beda dengan pakai Premium. Gas harus dipelintir abis mulu. Sehingga boros.
Perbandingan Angka Oktan dan Kompresi

Pertamax Plus
Oktan= 95
Kompresi= 10:1 – 11:1
Pertamax
Oktan= 92
Kompresi= 9:1 – 10:1
Premium
Oktan= 82
Kompresi= 7:1 – 9:1


artikel 2:

Berapakah sebenarnya nilai oktan yang dibutuhkan oleh mesin mobil kita?Khusus untuk tipe yang kebutuhan oktannya sekitar 90-92. Artinya anda boleh menggunakan premium yang dicampur Pertamax/Pertamax Plus untuk mendapatkan nilai oktan yang dibutuhkan. Premium yang beroktan 88 jika dicampur dengan Pertamax/Pertamax Plus yang saat ini beroktan 92/95 dalam perbandingan 1:1 akan memberikan nilai oktan sekitar 90/91.5. Premium murni sama sekali tidak mampu mencukupi kebutuhan oktan mesin tersebut.
Caranya :
Jika saat ini sudah full tank Pertamax, tunggu sampai tinggal separo, lalu isi Premium. Jika full tank Premium, tunggu tinggal separo, lalu isi Pertamax. Jika sudah habis, terpaksa anda harus isi Pertamax separo, lalu pindah ke tempat Premium isi setengahnya lagi… Memang untuk pertama kali-nya akan kelihatan lucu, soale pindah-pindah he he he…
Pakai Bensin Apa ?
Pemilik kendaraan kendaraan sering bertanya-tanya soal satu ini. Di Indonesia, saat ini tersedia beberapa jenis bensin, yaitu Premium (RON 88), Pertamax (RON 92) &, Pertamax Plus (RON 95). Premium masih mengandung timbal (leaded fuel) sedangkan Pertamax & Pertamax Plus bebas timbal (unleaded fuel).
Pertamax dan Pertamax Plus diproduksi dengan menggunakan bahan baku berkualitas tinggi yang telah memenuhi standar International Word Wide Fuel Charter yang F menuju katagori I. Dan tentu saja bahan ini tidak mengandung timbal.
Dari sisi sifat fisika atau properties bahan baku Pertamax dan Pertamax Plus memiliki stabilitas oksidasi yang lebih tinggi dari destilasi atau titik didih yang lebih rendah. Kemudian kandungan olefin, aromatik dan benzenernya telah dibatasi. Hasilnya, bahan baku Pertamax pembakarannya lebih sempurna. Dan untuk memenuhi kebutuhan dan perkembangan teknologi otomotif, angka oktanpun disesuaikan, Pertamax memiliki oktan RON (Research Octane Number) 92 dan Pertamax Plus memiliki oktan RON 95.
Keunggulan lainnya, Pertamax dan Pertamax Plus dilengkapi dengan aditif generasi 5 atau aditif generasi terakhir. Aditif yang berfungsi menyempurnakan proses kimia pada pembakaran didalam mesin ini telah memperoleh sertifikasi dan laboratorium independen berstandar international di Houston, Texas Amerika Serikat. Houston Texas sudah lama dikenal sebagai pusat riset bahan bakar dan motorgas dunia.
Biasanya di dalam mesin kendaraan terdapat timbunan deposit pada intake rafre yang akan menggganggu akselerasi mesin. Sedangkan timbunan deposit pada fuel injector dan ruang pembakaran akan membebani kinerja mesin. Aditif ini mampu membersihkan mesin dari semua timbunan deposit tersebut. Aditif ini juga melarutkan air dalam tangki mobil sehingga dapat mencegah karat dan korusi pada saluran dan tangki mesin.
Hasil pembakaran mesin makin sempurna. Lalu racun gas buang kendaraan bermotor yang bersumber dari senyawa kimia yang tidak stabil (nitrogen oksida dan karbon monoksida) dapat ditekan menjadi lebih baik. Kemampuan Pertamax dan Pertamax Plus membersihkan mesin dari timbunan deposit dan menekan kandungan racun gas buang kendaraan bermotor, membuat kinerja mesin meningkat dan lebih bertenaga, serta ramah lingkungan. Pada akhirnya kita bisa menekan biaya perawatan kendaraan dan menghemat konsumsi bahan bakar hingga 6,7%. Mobilpun tidak akan ngelitik saat jalan.
Membeli sendiri aditif tambahan akan lebih mahal dan merepotkan. Kita mesti repot membeli dan membuka kemasannya. Dan bisa saja suatu saat kita lupa menambahkan aditif atau tidak tepat takarannya.Kini konsumen tidak perlu lagi membeli tambahan aditif.

Persepsi salah ?
Persepsi yang salah masih dianut oleh kebanyakan masyarakat kita bahkan juga para mekanik bengkel resmi sekalipun:

1. Bensin tanpa timbal itu tidak boleh digunakan oleh mobil lawas karena mesin mobil lawas butuh timbal sebagai pelumas katup;
2. Bensin tanpa timbal hanya boleh digunakan oleh kendaraan yang dilengkapi dengan perangkat catalytic converter.
Mari kita ulas satu persatu untuk mendapatkan pengertian yang benar. Timbal dalam bahan bakar TIDAK melumasi katup, namun residu timbal melapisi katup. Karena ada lapisan ini, maka ketika katup menutup ada semacam bantalan/ cushion antara bahan metal katup dengan dudukan katup (valve seat) di cylinder head. Jika katup beradu langsung dengan valve seat akan berakibat pada kalahnya valve seat karena bahan metal yang digunakan katup pada umumnya lebih keras dari bahan cylinder head.
Sekarang pertanyaannya adalah, apakah teori ini berlaku bagi mobil anda? Jawabnya mudah saja, yaitu jika cylinder head mesin Anda terbuat dari bahan aluminium alloy, maka teori ini TIDAK BERLAKU lagi alias Anda boleh menggunakan bensin tanpa timbal. Kenapa begitu? Karena bahan alloy relatif lunak dibandingkan metal katup, pabrikan sudah memasangkan insert (lapisan) pada valve seat yang terbuat dari bahan baja. Jadi dalam hal ini cylinder head tidak akan rusak, dan tidak butuh bahan bakar bertimbal sebagai pelindung. Kesimpulannya, bahkan Peugeot 505 GR sekalipun laik mengkonsumsi BBM Tanpa Timbal.

Timbal digunakan untuk mendongkrak nilai oktan bensin sejak awal abad ini. Dalam perkembangannya, akhirnya diketahui bahwa timbal sangat berbahaya bagi kesehatan, yaitu bersifat carcinogenic (pemicu kanker) dan juga menghambat perkembangan intelijensi (IQ) anak-anak. Maka diciptakanlah bensin tanpa timbal namun beroktan tinggi juga semenjak awal 1970-an.
Pertamina sendiri merencanakan untuk menghapus bensin bertimbal (premium dan premix) pada akhir tahun 2001 ini dari wilayah DKI Jakarta dan akan disusul oleh daerah-daerah lainnya sehingga bumi pertiwi diharapkan bebas dari bensin bertimbal pada akhir tahun 2003.
Bensin tanpa timbal yang sering disebut-sebut sebagai bensin ramah lingkungan sebenarnya tidak seramah itu. Pada bensin jenis ini, terdapat banyak sekali zat aromatics yang juga bersifat carcinogenic! Zat-zat aromatics ini hanya bisa dinetralisir oleh Catalytic Converter (Cat). Kesimpulannya, jika anda memiliki kendaraan yang tidak dilengkapi dengan cat, anda sah-sah saja menggunakan bensin tanpa timbal namun gas buang dari kendaraan anda masih bersifat berbahaya juga. Jika kendaraan anda belum dilengkapi cat, alangkah baiknya jika anda tetap menggunakan bensin tanpa timbal demi masa depan anak-anak anda, supaya perkembangan IQ-nya tidak terganggu. Paling tidak, bensin tanpa timbal tetap sedikit lebih ramah lingkungan walaupun kendaran anda belum menggunakan cat.

Kebutuhan Oktan Mesin
Berapakah sebenarnya nilai oktan yang dibutuhkan oleh mesin mobil Kita?Khusus untuk tipe yang kebutuhan oktannya sekitar 90-92. Artinya anda boleh menggunakan premium yang dicampur Pertamax/Pertamax Plus untuk mendapatkan nilai oktan yang dibutuhkan. Premium yang beroktan 88 jika dicampur dengan Pertamax/Pertamax Plus yang saat ini beroktan 92/95 dalam perbandingan 1:1 akan memberikan nilai oktan sekitar 90/91.5. Premium murni sama sekali tidak mampu mencukupi kebutuhan oktan mesin tersebut.
Patut diketahui juga bahwa ada beberapa cara mengukur nilai oktan, namun yang paling sering digunakan adalah metoda RON (Research octane Number) dan Nilai Rata-rata RON dengan MON (Motor Octane Number). Nilai-nilai oktan yang dibahas diatas semuanya menggunakan metoda RON.
Kadang ada yang bersikeras bahwa di USA bensin terbaik (premium unleaded) hanya memiliki nilai oktan 94 sedangkan rata-rata mobil kebanyakan cukup menggunakan oktan 87 saja. Makanya ketika orang ini pulang ke bumi pertiwi, mobil-nya diisi dengan premium yang beroktan 88. Nah, disini terjadi kesalahan besar karena USA menganut metoda Nilai Rata-rata RON-MON. Bensin beroktan 87 di USA memiliki nilai oktan RON sekitar 92, sedangkan bensin premium unleaded beroktan 94 di USA memiliki nilai oktan RON sekitar 99.
Apa yang terjadi jika kita menggunakan bensin yang memiliki nilai oktan lebih rendah dari kebutuhan oktan mesin? Mesin akan ngelitik (detonasi). Seringkali kita meremehkan detonasi padahal dampak dari detonasi sangat fatal. Sebagai contoh, di arena balap detonasi mengakibatkan bolongnya piston mesin! Tentunya di jalan raya kejadian ini nyaris tidak pernah terdenganr karena kondisi pengendaraan yang jauh berbeda dengan arena balap. Namun yang pasti, usia mesin kendaraan akan menjadi jauh lebih pendek dibandingkan yang seharusnya. Ring piston lebih cepat aus, demikian pula komponen-komponen mesin lainnya.
Selain itu, mesin yang mengalami detonasi tidak dapat memberikan unjuk kinerja optimal alias konsumsi BBM lebih boros namun tenaga yang dihasilkan lebih kecil. Penyetelan ulang saat pengapian dengan cara memundurkannya (retard/ na) bukanlah solusi yang bijaksana karena kinerja mesin akan semakin menurun. Mesin menjadi tidak efisien lagi. Namun cara ini patut dipertimbangkan ketika kita berada di daerah dimana hanya tersedia bensin beroktan rendah. Daripada mesin cepat jebol, apa boleh buat kita korbankan efisiensinya. Berusaha menurunkan kompresi mesin juga bukan cara yang bijaksana karena akan mengurangi efisiensi mesin. Namun, jika terpaksa karena di daerah dimana anda tinggal hanya tersedia bensin premium, lakukanlah penurunan kompresi dengan cara yang benar. Jangan pernah berpikir untuk men-double paking/ gasket cylinder head! Carilah paking yang lebih tebal atau lakukanlah pembesaran volume ruang bakar dengan cara yang benar.
Jika mesin kita hanya membutuhkan oktan sekitar 92 , apakah kita perlu menggunakan bensin yang memiliki oktan lebih tinggi seperti Pertamax Plus? Jelas tidak perlu, namun disini timbul dilema karena kita tetap harus peduli pada masa depan anak-anak bangsa ini agar tidak menjadi generasi yang bodoh dengan tingkat IQ rendah. Apakah solusinya?

1. Mencampur premium dengan Pertamax/Pertamax Plus, otomatis timbal pada gas buang kendaraan anda akan semakin kecil;
2. Menggunakan Pertamax Plus tapi anda harus menyetel ulang saat pengapian mesin anda dengan memajukannya (advance/ voor). Memajukan saat pengapian sebanyak sampai dengan sekitar 5 derajat akan mengakibatkan mesin anda lebih efisien alias lebih bertenaga dan lebih hemat BBM sehingga anda tidak buang uang percuma membeli bensin yang lebih mahal.

Menaikkan Nilai Oktan
Nilai oktan tidak dapat ditingkatkan dengan mudah. Octane booster Yang banyak dijual di pasaran hanya mampu menaikkan nilai oktan sekitar 1 sampai 2 tingkat saja, jika tidak malah menurunkannya. Turun? Benar, ini bukan salah ketik atau anda salah baca. Berbagai negara menggunakan cara yang berbeda-beda dalam proses pembuatan bensin. Cara yang digunakan di USA belum tentu sama dengan cara yang digunakan di Cilacap atau Balongan. Dengan sendirinya, octane booster eks USA belum tentu cocok untuk bensin di Indonesia. Pernah suatu ketika saya menambahkan produk octane booster terkenal eks USA di mobil saya dan yang terjadi mesin malah ngelitik (detonasi)! Padahal sebelumnya mesin ini baik-baik saja. Penggunaan kamper untuk menaikkan nilai oktan adalah mitos saja, karena hanya kamper kuno yang menggunakan bahan naphtalene saja yang dapat menaikkan nilai oktan sedikit. Ini juga dengan catatan, karena semuanya kembali tergantung pada proses pembuatan/ penyulingan bensin. Kamper yang tidak larut sepenuhnya malah bisa mengakibatkan tersumbatnya injector anda. Nilai oktan hanya dapat ditingkatkan dengan efektif dengan beberapa cara antara lain:
1. Menambahkan timbal yang berbahaya bagi kesehatan;
2. Menambahkan MTBE seperti pada premix dan Super TT;
3. Mencampur bensin dengan Avgas (aviation gasoline).
Penggunaan avgas atau avtur juga disinyalir berbahaya bagi kesehatan karena avgas pada umumnya memiliki kandungan timbal yang tinggi. Penambahan MTBE seperti yang dilakukan Pertamina relatif aman bagi kesehatan namun efisiensi pembakaran sebenarnya menurun karena menurunnya nilai kalori (calorific value) hasil pembakaran bensin.
Untuk mendapatkan tenaga mesin yang sama, mesin harus membakar lebih banyak bensin yang mengandung MTBE alias konsumsi BBM menjadi lebih boros.

KESIMPULAN
1. Demi masa depan anak-anak anda yang harus lebih pintar dari orang tuanya, gunakanlah bensin tanpa timbal (Pertamax / Pertamax Plus);
2. Jika anda berada di daerah yang tidak terdapat bensin tanpa timbal, ya apa boleh buat;
3. Gunakan bensin dengan nilai oktan yang sesuai dengan kebutuhan oktan mesin anda (sesuai spesifikasi pabrikan). Oktan yang terlalu rendah mengakibatkan detonasi pada mesin yang bersifat merusak mesin sedangkan oktan yang terlalu tinggi membutuhkan penyetelan ulang pada saat pengapian mesin anda supaya anda tidak buang uang percuma beli bensin mahal;
4. Jika di tempat anda berdomisili tidak tersedia bensin beroktan cukup untuk memenuhi kebutuhan mesin, maka anda terpaksa melakukan penyetelan ulang saat pengapian atau memodifikasi cylinder head.

Artikel 3:

Mobil atau Motor kita baiknya diisi bensin apa ya? Ada pilihan bensin yaitu Premium, Pertamax dan Pertamax Plus yang merupakan produk Pertamina, dan ada juga bensin jenis lain dari perusahaan asing seperti Shell dan Petronas. Semakin banyak lagi pilihan kita.
Mesin mobil maupun motor memerlukan jenis bensin yang sesuai dengan desain mesin itu sendiri agar dapat bekerja dengan baik dan menghasilkan kinerja yang optimal. Jenis bensin tersebut biasanya diwakili dengan angka / nilai oktan (RON), misalnya Premium ber-oktan 88, Pertamax ber-oktan 92 dan seterusnya.
Semakin tinggi angka oktan, maka harga per liternya pun umumnya lebih tinggi. Namun belum tentu bahwa jika mengisi bensin ber-oktan tinggi pada mesin mobil/motor kita, kemudian akan menghasilkan tenaga yang lebih tinggi juga. Wah jadi bagaimana dong?
Jika kita cermati spesifikasi kendaraan kita (mobil atau motor) pada brosur yang baik akan menampilkan informasi rasio kompresi (Compression Ratio / CR). CR ini adalah hasil perhitungan perbandingan tekanan yang berkaitan dengan volume ruang bakar terhadap jarak langkah piston dari titik bawah ke titik paling atas saat mesin bekerja. terlihat pada foto, bahwa CR mesin mobil Timor DOHC S515i adalah 9.3 : 1
Dari informasi spesifikasi brosur tersebut, kita bisa menentukan bahwa mesin mobil timor tersebut memerlukan jenis bensin yang bernilai oktan 92, yaitu bensin Pertamax.

Bagaimana jika diisi bensin dengan oktan lebih rendah?
Bensin dengan oktan rendah lebih mudah terbakar. Semakin tinggi nilai CR pada mesin artinya membutuhkan bensin bernilai oktan tinggi. Mesin berkompresi tinggi membuat bensin cepat terbakar (akibat tekanan yang tinggi), yang akan menjadi masalah adalah, ketika bensin terbakar lebih awal sebelum busi memercikkan api. Saat piston naik ke atas melakukan kompresi, bensin menyala mendahului busi, akibatnya piston seperti dipukul keras oleh ledakan ruang bakar tersebut. Kita sering mendengar istilah "Ngelitik" (pinging/knocking) . Bagaimana menggambarkan 'kejam'nya ngelitik yang dirasakan piston? Ibarat telapak tangan kita ditusuk2 dengan paku… kira-kira begitu. Perlahan namun pasti.. membuat piston seperti permukaan bulan… dan bahkan bisa bolong!.. hiiii….
Saat terjadi 'ngelitik', bensin tidak menjadi tenaga yang terpakai. Kerja mesin tidak optimal. Kembali diulang, mesin yang CR nya tinggi, memerlukan bensin yang lambat terbakar. Semakin tinggi nilai CR, bensin harus semakin lambat terbakarnya (oktan tinggi).

Nah, jadi untuk teman-teman, cermati nilai CR mesin mobil/motor kita (bisa intip pada daftar di bawah), isilah bensin yang sesuai untuk mesin tersebut.

Bagaimana kalau diisi bensin dengan oktan lebih tinggi?
Bensin dengan oktan lebih tinggi (pertamax, pertamax plus, dsb), umumnya dilengkapi dengan aditif pembersih, dan sebagainya. Namun tidak banyak memberi penambahan tenaga, jadi angka oktan tinggi bukan artinya lebih 'bertenaga'.
Karena benefitnya kurang sebanding jika dibanding harganya yang tinggi, maka ujung-ujungnya hanyalah merupakan pemborosan uang saja.

Kesimpulan:
- Dianjurkan mengisi bensin sesuai nilai rasio kompresi. (kecuali ada modifikasi lain).

- Semakin TINGGI nilai oktan, maka bensin semakin lambat terbakar (dikarenakan titik bakarnya lebih tinggi).

- Semakin TINGGI nilai oktan, maka bensin lebih sulit menguap (penguapan rendah)

- Bensin yang gagal terbakar (akibat oktan terlalu tinggi), bisa menyebabkan penumpukan kerak pada ruang bakar atau pada klep.

Solusi Alternatif
Banyak cara untuk menyiasati agar bisa menggunakan bensin Premium pada mesin yang ber-CR tinggi, namun mesin tidak mengalami 'ngelitik', antara lain:
- Menambahkan Octane Booster pada bensin (dimasukkan ke tangki bensin)
- Menggunakan katalis untuk menaikkan nilai oktan (biasanya mengandung timbal, tidak ramah lingkungan).
- Merubah derajat waktu pengapian (ignition timing) ke posisi yang lebih lambat (Retard).
- Menggunakan aplikasi water-injection (agak repot untuk perawatannya) .
- dan lain-lain.

Fakta…
Pada kenyataannya. . banyak kita lihat, khususnya di SPBU, motor-motor baru yang berkompresi tinggi mengantri panjang di pompa bensin jenis Premium. Faktor ekonomi lebih mendesak ketimbang dampak rusak ke depan pada mesin motornya.. atau memang kurangnya informasi mengenai pemilihan bensin ini.

Artikel 4:

Pertamax adalah bahan bakar minyak andalan Pertamina yang diluncurkan sejak tahun 1999. Pertamax adalah bensin tanpa timbal dengan kandungan aditif lengkap generasi mutakhir yang akan membersihkan Intake Valve Port Fuel Injector dan ruang bakar dari carbon deposit dan mempunyai RON 92 (Research Octane Number) dan dianjurkan juga untuk kendaraan berbahan bakar bensin dengan perbandingan kompresi tinggi.
Pertamax merupakan salah satu jenis bahan bakar ramah lingkungan beroktan tinggi hasil penyempurnaan produk Pertamina sebelumnya. Formula barunya yang terbuat dari bahan baku berkualtas tinggi memastikan mesin kendaraan bermotor bekerja dengan lebih baik, lebih bertenaga, “knock free”, rendah emisi, dan memungkinkan penghematan pemakaian bahan bakar.
Pertamax ditujukan untuk kendaraan yang mempersyaratkan penggunaan bahan bakar beroktan tinggi dan tanpa timbal (unleaded). Pertamax juga direkomendasikan untuk kendaraan yang diproduksi diatas tahun 1990 terutama yang telah menggunakan teknologi setara dengan electronic fuel injection dan catalytic converters.
Produk Pertamina ini sudah tidak menggunakan campuran timbal dan metal lainnya yang sering digunakan pada bahan bakar lain untuk meningkatkan nilai oktan sehingga Pertamax merupakan bahan bakar yang sangat bersahabat dengan lingkungan.

Artikel 5:

Sepertinya memilih bahan bakar yang tepat untuk Motor Matic kita menjadi salah satu yang wajib dipertimbangkan. Jangan pernah beranggapan “Bensin itu sama saja”. Mari kita telaah lebih lanjut mengenai bahan bakar yang kita pergunakan untuk motor Matic Kita.
Karakteristik Umum
Bahan bakar kendaraan bermotor, memiliki nilai kandungan oktan yang berbeda-beda. Semakin rendah nilai oktan (Research Octane Number / RON) maka bensin tersebut akan lebih mudah terbakar. Semakin tinggi nilai oktan, maka bahan bakar akan semakin lama terbakar (sumber: wikipedia).
Menggunakan bahan bakar dengan oktan tinggi tidak lantas akan menaikan tenaga motor Matic Anda. Yang paling perlu diperhatikan adalah perbandingan kompresi (Compression Ratio) dari Matic Anda apakah cocok dengan bahan bakar tersebut atau tidak. Di Indonesia, bahan bakar bensin dibagi menjadi 3 jenis, Premium dengan nilai oktan 88, Pertamax dengan nilai oktan 92, dan pertamax plus dengan nilai oktan 95.
Kompresi
Perbandingan kompresi (Compression Ratio) digambarkan sebagai penyempitan ruang bakar ketika piston berada dalam posisi paling tinggi berbanding posisi piston pada paling rendah. Misalnya, dalam sebuah silinder yang memiliki kapasitas 1000cc pada posisi piston dibawah, sedangkan pada posisi atas kapasitas silinder akan berada pada 100cc, keadaan ini memiliki kompresi 1000 : 100 atau 10:1. Pada posisi puncak, udara dalam keadaan mampat dan pada posisi ini pula ledakan bahan bakar akan terjadi dan mendorong piston kebawah.
Kompresi Vs. Oktan
Bayangkan Anda sedang memegang alat suntik yang ditutup pada bagian jarumnya (tempat keluar cairan) kemudian tekan hingga karet pendorong suntikan berada di tengah (50%). Kemudian ulangi namun dengan posisi karet pendorong suntikan berada di posisi 90%. Mana yang lebih lama dilakukan? mana yang lebih memerlukan tenaga?. Jawabannya tentu yang posisi karet pendorong 90% bukan? Nah analogi diatas tepat untuk menggambarkan kompresi pada motor Anda.
Pembakaran pada ruang pembakaran sebaiknya terjadi pada saat posisi piston berada pada puncak silinder. Dalam hal ini, timing yang lebih menentukan untuk waktu pembakaran yang tepat. Pada kompresi rendah yang memerlukan waktu lebih cepat, ia memerlukan bahan bakar yang cepat terbakar pula (oktan rendah). Sedangkan pada kompresi lebih tinggi, ia memerlukan bahan bakar yang lebih lama terbakar (oktan tinggi) agar ketika sudah posisi puncak piston maka bensin akan terbakar.
Bagaimana bila mesin dengan kompresi tinggi mempergunakan bahan bakar beroktan rendah? Seperti yang kita analogikan pada alat suntikan, pada mesin kompresi tinggi namun dengan bahan bakar beroktan rendah, maka bahan bakar akan terbakar sebelum piston mencapai puncak. Akibatnya, tenaga yang dihasilkan tidak full, mesin seperti los atau bahkan terjadi knocking, yang lama kelamaan akan merusah piston bahkan akan jebol.
Sedangkan bila Anda menggunakan bahan bakar yang sesuai dengan mesin Anda, yang akan Anda peroleh adalah Efisiensi dan tenaga lebih optimal.
Bahan Bakar yang Cocok
Panduan untuk menentukan bahan bakar sesuai kompresi dapat dilihat sebagai berikut:

7 : 1 s.d. 9 : 1 = Premium
9 : 1 s.d. 10 : 1 = Pertamax
10 : 1 s.d. 11 : 1 = Pertamax Plus

Premium:
Yamaha Mio (8.8 : 1)
Yamaha Mio Soul (8.8 : 1)
Yamaha Nouvo (8.8 : 1)

Pertamax:
Suzuki Skydrive (9.6 : 1)
Suzuki Skywave (9.6 : 1)
Suzuki Spin (9.6 : 1)
Honda Beat (9.2 : 1)
Kymco Free LX / Libero (9.8 : 1)
Kymco Trend SR (9.8 : 1)

Pertamax Plus:
Honda Vario (10,7 : 1)
Kymco Free Ex (10.4 : 1)
Kymco Easy JR (10.4 : 1)
Melihat kondisi di Indonesia akan ketersediaan jenis bahan bakar, pihak pabrikan tentu telah memertimbangkan hal ini, dengan membuat mesin dengan kompresi tinggi “lebih toleran” dengan mengatur / memundurkan timing pengapian. Oleh: Matic Rider Blog (http://maticrider.com)

WebRepOverall rating

Artikel 6:

Memiliki kendaraan bermotor saat ini sebaiknya harus irit bahan bakar, tapi di lapangan kenyataan irit itu ternyata banyak sekali faktor yang menentukannya. Beberapa kendaraan mengklain bahwa kendaan merek tertentu tersebut irit bahan bakar tapi di lapangan para penggunakan menemukan hal  yang berbeda.
Sebenarnya menurut pendapat saya irit menggunakan bahan bakar oleh kendaraan juga harus di lihat dari spesifikasi mesin kendaraan itu sendiri.

Kita ketahui bahwa untuk memperoleh tenaga mesin mendapatkannya dari pembakaran bahan bakar minyak. nah mengenai pembakaran ini kita harus memperhatikan kompresi mesin kendaraan tersebut.
Jika kita menggunakan bahan bakar yang tidak sesuai dengan kompresinya bisa menjadi salah satu sebab kendaraan kurang efektif menggunakan bahan bakar dan akibarnya terkesan boros.
dari beberapa sumber di internet saya mendapatkan informasi bahwa kendaraan tertentu tidak baik menggunakan bensin, baiknya menggunakan pertamax atau pertamax plus, ada juga kendaraan yang tidak baik menggunakan pertamax melainkan baik menggunakan premium biasa ( bensin)
Untuk melihat kecocokan mesin kendaraan kita terhadap bahar bakar yang digunakannya bisa di lihat dibawah ini

  • Premium  untuk mesin dengan kompresi 7.0 :1 – 9.0 :1
  • Pertamax untuk mesin dengan kompresi 9.0 :1 – 10.0 :1
  • Pertamax Plus untuk mesin dengan kompresi 10.0 :1 – 11.x :1
Nah kalau melihat jenis bensin dan kompresinya, saya sempet melihat spesifikasi kompresi beberapa kendaraan yang banyak digunakan kita sehari hari

Motor : Bensin

  • yamaha mio standart
  • yamaha mio soul
  • yamaha mio sporty
  • honda absolute revo
  • honda blade
  • Honda Tiger
  • Honda SUpraX 125
  • Honda Revo AT
Motor : Pertamax
  • yamaha new scorpio  - pertamax
  • yamaha byson  - pertamax
  • yamaha vega zr
  • yamaha new jupiter z
  • kawasaki klx-150s
  • kawasaki athlete
  • kawasaki edge
  • Honda new megapro
  • Honda Scoopy
  • Suzuki Skywave 125
  • Suzuki Spin 125
  • Suzuki Thunder 125
  • Suzuki Skydrive
  • Suzuki Smash Titan 115
Motor : Pertamax Plus
  • yamaha vixion
  • yamaha xeon
  • yamaha jupiter mx
  • kawasaki ninja 250 R
  • kawasaki klx 250s
  • kawasaki kaze zx130
  • Honda PCX
  • Honda Vario
  • Suzuki Satria FU
Mobil : Bensin :
  • Suzuki APV 1.5
Mobil : Pertamax :
  • Cherolet Estate 1.6
  • Honda Stream 1.7
  • Daihatsu Sirion 1.3
  • Proton Savvy 1.2
  • Suzuki Swift 1.5
Mobil : Pertamax Plus
  • Daihatsu Xenia VVT-i
  • Nissan Grand Livina 1.5
  • Avanza 1.5
  • Honda Jazz VTEC 1.5
  • Suzuki SX4 1.5
  • Toyota Yaris 1.5
  • Nissan Livina Hatch 1.5

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar